Kebiasaan Stunting Boven Digoel Sentuh 20,5 %

Boven Digoel: Permasalahan stunting atau keadaan tidak berhasil tumbuh pada anak karena kekurangan nutrisi akut tetap menjadi perhatian khusus di Kabupaten Boven Digoel. Berdasar Data Nutrisi Wilayah Tahun 2025, kebiasaan stunting di daerah ini terdaftar sejumlah 20,5%, dalam jumlah kasus capai 661 anak. Angka ini masihlah jauh di atas sasaran nasional untuk tahun 2029 yang dibanderol sejumlah 14,2%.

Rumor itu menjadi topik khusus pada aktivitas Rembuk Stunting yang diadakan Pemerintahan Kabupaten Boven Digoel. Acara itu didatangi oleh perwakilan dari semua Organisasi Piranti Wilayah (OPD), dan figur warga dan perwakilan service kesehatan.

Dalam sambutannya, Pendamping II Setda Boven Digoel, Fahrudin Isnanto, yang datang sebagai wakil Bupati Boven Digoel, memperjelas jika pengatasan stunting tidak cuma tanggung-jawab bidang kesehatan semata-mata, tapi adalah pekerjaan bersama lintasi bidang.

“Angka stunting di wilayah kita masih tinggi, ini menjadi tugas rumah besar yang perlu diatasi dengan kolaboratif. Lewat rembuk ini, kita ingin menjadikan satu loyalitas seluruh pihak supaya pengatasan stunting dapat semakin pas target dan berpengaruh riil,” tutur Fahrudin.

Stunting bukan hanya berpengaruh pada perkembangan fisik anak, tapi juga bisa menghalangi perubahan otak, mekanisme ketahanan tubuh, dan turunkan keproduktifan saat dewasa. Anak yang alami stunting lebih rawan pada penyakit dan mempunyai dampak negatif semakin tinggi alami ketidakberhasilan akademis.

Keadaan ini biasanya terjadi karena kekurangan nutrisi akut, khususnya pada 1.000 hari awal kehidupan (dari saat kehamilan sampai anak berumur 2 tahun). Oleh karenanya, interferensi sejak awal menjadi penting untuk menghambat dan turunkan angka stunting.

Lewat Rembuk Stunting, masing-masing OPD disuruh menata program yang memberikan dukungan pemercepatan pengurangan stunting sama sesuai peranan dan peranan mereka. Pendekatan konvergensi lintasi bidang ini diyakinkan sanggup memberi hasil lebih efektif.

“Di depan, kita ingin seluruh pihak langsung turun ke lapangan. Mendeteksi dini, pengiringan keluarga, dan pembelajaran nutrisi harus menjadi kegiatan rutin yang sudah dilakukan dengan berkesinambungan,” tambah Fahrudin.

Dengan kerja sama dengan yang kompak di antara pemerintahan, warga, dan penopang kebutuhan yang lain, diharap Boven Digoel bisa turunkan angka stunting dengan bertahap dan cetak angkatan yang sehat, pintar, dan produktif.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *